Sejarah Pendirian Yayasan

(Foto para perintsi Yayasan Islam Al-Akhyar)
Pada tahun 1991 Yayasan Islam Al-Akhyar berdiri secara  resmi  berdasarkan Akte Notaries No. 17  Tgl  05 Juni 1991 di  Jl. Kembang Beji no. 23 RT/RW. 04/03 Kota Depok, gagasan pendirian ini dilakukan dalam rangka memenuhi kebutuhan masyarakat dalam upaya turut membantu mencerdaskan generasi bangsa dan agama dalam melahirkan generasi ulama sebagai warasatul anbiya,  melalui pembinaan, pengembangan dan pemberdayaan potensi santri  dibidang pendidikan, sosial dan pesantren yatim sebagai program  yang dikembangkan.

Pendiri  Yayasan Islam Al-Akhyar:

  1. Ust. Abdul Wahab Sya’roni Missin
  2. Mamih Syahidah
  3. Emus Entun
  4. M. Tahari
  5. H. Murdahlan
  6. H. Syafei Jaya
  7. Puji Surono, SE
  8. H. Tukiman
  9. Naat Sabeni
  10. H. Muri
Setiap sejarah tentu berawal  dari sesuatu yang banyak aral rintang, dengan gigih dan tidak kenal menyerah, sosok Ust. Abdul Wahab sebagai salah seorang diantara pendiri Yayasan Islam Al-Akhyar yang merupakan lulusan dari Pondok Pesantren Almutohar Legok Purwakarta dan kemudian mendalami kursus bahasa arab dan pengetahuan kegamaan dari perguruan Attahiriyah Jakarta, kemudian setelah berkeluarga beliau bercita-cita ingin mengamalkan ilmu agamanya dengan cara membentuk pengajian Taman Pendidikan Al-Qur’an yang santri-santrinya terdiri dari yatim piyatu dan masyarakat umum. Seiring dengan berjalannya waktu, kecelakaan menimpa beliau sehingga menyebabkan kebutaan pada matanya secara total disertai putusnya organ syaraf pendengaranya.

Selang masa-masa beliau sakit, aktivitas sempat terhenti selama beberapa tahun, atas karunia  dan Ridho  Allah SWT.  Dengan kondisi kedua matanya tidak berfungsi dan alat bantu dengar yang selalu dipakainya, ternyata sosok mujahid berparas tampan dan gagah dengan didampingi istri tercinta bernama Mamih Syahidah dan ketiga puterinya bernama Siti Marwati, Siti Humaeroh dan FItriyah Wahab. Beliau melanjutkan syiar islam dan kembali mengajar mengaji dan mulai merekrut  santri yatim untuk diajarkan kajian kitab kuning, kitab fiqih, tafsir dan ilmu al-qur’an. Walaupun metode pengajarannya dengan hafalan akan tetapi materi pengajarannya mudah dicerna oleh santri-santrinya sehingga santri yang beliau bina semakin bertambah banyak.

Keinginan beliau dalam mendirikan yayasan semakin kuat, dengan maksud supaya santri-santri yang beliau bina mendapatkan tempat lebih layak baik tempat belajarnya maupun tempat pemondokannya, gagasan tersebut pernah beliau bicarakan dengan keluarga dan masyarakat akhirnya mendapatkan respon yang positif dan negatif, respon positif lebih kepada dukungan moril semakin banyak santri yatim yang sangat membutuhkan pondok pesantren yang membuat santri nyaman. adapun sebagian masyarakat berfikir secara negatif karena berfikir,psimistis kdengan melihat  kondisi fisik beliau yang tidak bisa melihat dan mendengar.

Keyakinan dan dorongan sosial dan merupakan bagian daripada syiar islam, dengan segala keterbatasan fisik tidak pernah menyurutkan beliau untuk berhenti berkarya. Alhasil dengan kecerdasan dan kegigihan tersebut melalui dukungan keluarga dan sebagian masyarakat beliau menerapkan beberapa prinsif dalam menemukan keberhasilan sebagai langkah suksesnya, yaitu ridha orangtua, giat shadaqah dan pembiasaan untuk bersilaturahmi serta diselingi berkah para auliya dan shalihin yaitu dengan cara ziarah kubur.

Keberhasilan tersebut Allah SWT. Wujudkan dengan cara mendatangkan para dermawan dan hartawan untuk turut serta membantu merintis pembangunan yayasan islam al-akhyar, baik dari masyarakat sekitar, pengusaha maupun instansi pemerintah melalui anggaran daerah.

0 komentar:

Posting Komentar